POLITIK
Strategi maupun system mengalahkan lawan sudah ada sejak zaman Rosululloh SAW, yaitu dalam system perang fi Sabilillah. Namun dalam kebersamaan menuju Ummat yang lebih maju. Islam tidak mengajarkan saling menjatuhkan satu dengan lainnya. Bahkan Rosululloh SAW, berkata dengan tegas: "Barang siapa yang menjatuhkan orang lain karena adanya tujuan/kepentingan pribadi/golongan, maka mereka bener-benar golongan ahlul FASIQ".
Lalu bagaimanakah POLITIK yang dibenarkan dalam pandangan Islam secara hukum bangsa Hukmi maupun I'tifak para Ulama Khos? Secara Kaidah Islam dijelaskan. "Sesungguhnya pemimin yang baik, mereka menjaga tali persaudaraan antar ummat beragama, dan mereka saling memberi dan mendukung antar satu golongan didalamnya (Islam) dan mereka saling bahu membahu mencari kekurangan diri, bukan malah sebaliknya saling menjatuhkan lawan dan sanak saudara secara berkelompok yang mengakibatkan perpecahan kian tampak.
Allah SW berfirman dalam Hadist Qudsi: "Sesungguhnya para Pemimpin lebih dulu di azab ketimbang lainnya" Maksud lebih dahulu di azab disini secara tafsir dijelaskan..."Mereka yang mencari popularitas kepemimpinan dengan cara saling menjatuhkan martabat pemimpin lainnya. Sebab tiada satupun kejadian yang ada di muka bumi ini yang tidak pernah lepas dari Ijin dan tamkinnya Allah SWT".
Allah telah berfirman dalam Hadist Qudsi: "Aku ciptakan akhlak mulia diantara pemimpin ummat, mereka telah memberi keutuhan kepada ummatnya dan mereka telah tertanam sifat kebijakan saling bahu membahu dalam kepemimpinnya, bukan mereka yang saling menjatuhkan satu sama lain. Sesungguhnya sifat-sifat Istijrod/merusak, yang mereka gunakan tiada lain bagian dari sifat-sifat SETAN TERKUTUK".
Allah berfirman dalam Hadist Qudsi: "Barang siapa yang mengikuti hukum-hukumku (ajaran yang dibawa Baginda Rosululloh SAW) maka siapapun yang mengikutinya akan di tempatkan dalam derajat yang lebih agung, dan mereka para pemimpin akan mendapat ridho-Ku dunia akherat. Mereka itulah pemimpin yang menjaga tatakrama kepada ummatnya tanpa merusak akidah yang sudah tertanam dalam hukum-hukum-Ku".
Allah berfirman dalam Hadist Qudsi: "Barang siapa yang ikutan menghujat dan saling hasud satu sama lain, baik mereka yang berkedudukan maupun yang sekedar ikut-ikutan . Maka Aku mengazabnya seperti aku menghinakan kaumnya Nabi Luth".
Secara pandangan Ulama Khos, maksud dari ikut-ikutan disini, mereka yang mengucapkan ketidak sukaannya dan di beberkan kalayak luas atau mereka yang menuliskan kata kata tidak suka pada salah satu golongan hingga dibaca kalayak umum dan menjadi satu perppecahan antar ummat beragama. Barang siapa yang melakukan kerusakan antar ummat, baik Qola waqol (di ucapakan) maupun secara Al Katibun (ditulis) atau secara Jahrun (selalu di dengungkan agar orang lain tahu) Maka Allah akan mengazabnya dan menjadikan mereka bagian dari orang-orang Fasiq dan Munafik di dalamnya..."Barang siapa yang mati dalam kedaan Fasiq atau Munafik, niscaya mereka dikelompokkan dalam wadah ahlul Kuffar dan selama lamanya di tempatkan dalam api neraka".
ADAKAH SUMBER CERITA DI ATAS ? ATAU HANYA KHAYALAN PENULISNYA ?
Strategi maupun system mengalahkan lawan sudah ada sejak zaman Rosululloh SAW, yaitu dalam system perang fi Sabilillah. Namun dalam kebersamaan menuju Ummat yang lebih maju. Islam tidak mengajarkan saling menjatuhkan satu dengan lainnya. Bahkan Rosululloh SAW, berkata dengan tegas: "Barang siapa yang menjatuhkan orang lain karena adanya tujuan/kepentingan pribadi/golongan, maka mereka bener-benar golongan ahlul FASIQ".
Lalu bagaimanakah POLITIK yang dibenarkan dalam pandangan Islam secara hukum bangsa Hukmi maupun I'tifak para Ulama Khos? Secara Kaidah Islam dijelaskan. "Sesungguhnya pemimin yang baik, mereka menjaga tali persaudaraan antar ummat beragama, dan mereka saling memberi dan mendukung antar satu golongan didalamnya (Islam) dan mereka saling bahu membahu mencari kekurangan diri, bukan malah sebaliknya saling menjatuhkan lawan dan sanak saudara secara berkelompok yang mengakibatkan perpecahan kian tampak.
Allah SW berfirman dalam Hadist Qudsi: "Sesungguhnya para Pemimpin lebih dulu di azab ketimbang lainnya" Maksud lebih dahulu di azab disini secara tafsir dijelaskan..."Mereka yang mencari popularitas kepemimpinan dengan cara saling menjatuhkan martabat pemimpin lainnya. Sebab tiada satupun kejadian yang ada di muka bumi ini yang tidak pernah lepas dari Ijin dan tamkinnya Allah SWT".
Allah telah berfirman dalam Hadist Qudsi: "Aku ciptakan akhlak mulia diantara pemimpin ummat, mereka telah memberi keutuhan kepada ummatnya dan mereka telah tertanam sifat kebijakan saling bahu membahu dalam kepemimpinnya, bukan mereka yang saling menjatuhkan satu sama lain. Sesungguhnya sifat-sifat Istijrod/merusak, yang mereka gunakan tiada lain bagian dari sifat-sifat SETAN TERKUTUK".
Allah berfirman dalam Hadist Qudsi: "Barang siapa yang mengikuti hukum-hukumku (ajaran yang dibawa Baginda Rosululloh SAW) maka siapapun yang mengikutinya akan di tempatkan dalam derajat yang lebih agung, dan mereka para pemimpin akan mendapat ridho-Ku dunia akherat. Mereka itulah pemimpin yang menjaga tatakrama kepada ummatnya tanpa merusak akidah yang sudah tertanam dalam hukum-hukum-Ku".
Allah berfirman dalam Hadist Qudsi: "Barang siapa yang ikutan menghujat dan saling hasud satu sama lain, baik mereka yang berkedudukan maupun yang sekedar ikut-ikutan . Maka Aku mengazabnya seperti aku menghinakan kaumnya Nabi Luth".
Secara pandangan Ulama Khos, maksud dari ikut-ikutan disini, mereka yang mengucapkan ketidak sukaannya dan di beberkan kalayak luas atau mereka yang menuliskan kata kata tidak suka pada salah satu golongan hingga dibaca kalayak umum dan menjadi satu perppecahan antar ummat beragama. Barang siapa yang melakukan kerusakan antar ummat, baik Qola waqol (di ucapakan) maupun secara Al Katibun (ditulis) atau secara Jahrun (selalu di dengungkan agar orang lain tahu) Maka Allah akan mengazabnya dan menjadikan mereka bagian dari orang-orang Fasiq dan Munafik di dalamnya..."Barang siapa yang mati dalam kedaan Fasiq atau Munafik, niscaya mereka dikelompokkan dalam wadah ahlul Kuffar dan selama lamanya di tempatkan dalam api neraka".
ADAKAH SUMBER CERITA DI ATAS ? ATAU HANYA KHAYALAN PENULISNYA ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar