Merambat menuju derajat tertinggi tidaklah mudah dan tidak bersifat umum, melainkan harus menguasai dan memahami Hakikat yang ada di bumi, baik secara asma' sifat, af'al hingga menuju Dzatulloh. Pemahaman kita harus bisa masuk ke pori pori kulit dan penjiwaan rasa harus bisa dibuktikan secara wujud nyata. "Sesungguhnya tiada hijab/penutup bagi mereka yang sudah kedapatan maqomat Ma'rifat Billah"
Pembelajaran awal kita sebagai maqom Syareat...harus di kejar dengan Tadzkir dan mengaji secara rutin, belajar memahami makna tasaffuf (menata tingkah laku) dan Tauhid (memahami keagunggan Allah dengan sifat Wujud dan cinta kasih) Lalu setelah itu kita wajib masuk ke sifat Thorekoh, dengan mengikuti Tasbihnya santri menuju Sakinatul Derajat. Disini kita wajib bergabung antar santri untuk memelihara derajat perjalanana dengan membuat sifat mengikutinya kita kepada Mursyid (bentuk wujud santri/khidmat)
Dari sini juga cobaan dan fitnah akan kita rasakan sampai menuju jenjang Kamalatus sifat dan butuh waktu paling sedikit 7 tahun lamannya. Setelah itu jadikanlah kita menuju wujud Asma' dan Af'al...hingga tak ada keraguan dalam memperjuangkan sifat Perjalanan.
Bila kita sudah di tempatkan dalam sifat Istiqomah,,,niscaya Mursyid akan menempatkan kita menuju Syahadah Akbariyyah, yaitu penyatuan manusia dengan yang menciptakan alam Semesta, Allah.....
Bila sudah demikian maka kita hanya bisa berjalan karena Allah, berkehendak karena Allah, dan tidak berbuat karena Allah pula...hidup kita akan terjamin dan tanpa beerkehendak. Sebab makna Syahadah yang dimaksud (ditempatkan) bagian dari Tajridnya manusia yang sudah memahami Hakikatnya Nur Rosululloh yang paling dalam.
Lalu bagaimana wujud Ma'rifat dan ma'rifat Billah:
Ma'rifat adalah? bentuk Khidmatnya manusia dengan perwujudan A'mal yang dilestarikan secara istikomah hingga mengalahkan amalnya umat sedunia.
Adapun Ma'rifat Billah adalah? Bentuk perjalanan kita yang terlestari dan masuknya amal kita untuk seluruh alam, sehingga Para Malaikat butuh makanan dari sifat Syafaqoh kita, para Nabi butuh rohmat derajat kita dan para Ulama, butuh pertanggung jawaban derajat kita (Qutbur Robbani) sehingga orang Ma'rifat Billah, bagian dari pemegang Alam "Robbul Alamin"
Siapkah Kita melaksanakanannya wahai Jam'ij dan Mutaba'ah????
ADAKAH SUMBER CERITA DI ATAS ? ATAU
HANYA KHAYALAN PENULISNYA ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar